Malam ini sepi,.. sunyi,.. hening,..
Ditemani hembusan angin yang membalut jiwa,
Merasuk hingga ulu hati,
Ku terbuai dalam fatamorgana ini
Ya, rasa ini mulai muncul menghantui jiwa,
Berkecamuk dalam diri ini,
Aku bertanya, Apa sebenarnya ini?
Hanya lintasan pikiran?
Emosi sesaat?
Kesedihan, Kebahagiaan, atau apa?
Kemudian aku menyadari
Ya, ini bukanlah sebuah lintasan pikiran atau emosi sesaat saja
Ini berbeda, jauh berbeda
Sampai pada detik ini, aku bertanya
Rasa apa ini sebenarnya?
Mengapa ini bisa terjadi dalam ruang dialektika hati?
Hati kecil ini menjawab,..
Inilah Fitrah Allah yang dimasukkan ke dalam hatimu
Hingga menguasai jiwamu
Dan terkadang menutup akal sehatmu
Ku bertanya lagi dalam hati, Apa yang harus kulakukan?
Kembali terbersit dalam memoriku sebuah kata-kata bijak,
Jagalah Hatimu, Jagalah Hatimu dan Jagalah Hatimu
Apa?..
Lalu aku marah pada diri sendiri
Mengutuk ketidakberdayaan jiwa ini
Yang tidak mampu menguasai hati
Lalu, aku mulai mencari...
Mencari sebuah jawaban dari semua ini
Mencari solusi dari kegelisahan dan kegundahan ini
Kubuka Firman-Nya,
Ku mencari...dan terus mencari
Sampai pada sebuah surah,
Kubaca ayat-Nya satu demi satu,
Kuresapi maknanya,
Dalam...Sangat Dalam...
Sampailah hati pada sebuah jawaban
Yang membuka kembali pintu jiwa ini
Menerangi kegelapan hati
Hingga mengobati kegundahan ini
Kunci lentera jiwa ini adalah
"Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".
(QS. Al-An'aam: 162-163).
Ayat tersebut mengajariku, membukakan hatiku, dan menuntun diriku dalam satu jawaban
Jawaban hati ini, atas segala gelombang jiwa yang berkecamuk selama ini
Ya jawaban itu adalah
"Keikhlasan"
Bandung,
30 Januari 2012 | 2:14 AM
RSS Feed
Twitter
10.33
Sebuah jalan pencarian kebenaran
0 komentar :
Posting Komentar