Sabtu, 28 Januari 2012



Ketika Matahari Berpuisi

Cahayanya masuk mengisi hati yang sepi

Menyinari kegelapan dalam sebuah alunan melodi


Ketika Matahari Berpuisi

Aku buka jendela kamar ini, jantungku berhenti

Menikmati hangatnya sebuah karya Illahi


Ketika Matahari Berpuisi

Aku terbawa dalam sebuah imajinasi

Mendengar sebuah symphoni nada cinta bernyanyi


Ketika Matahari Berpuisi

Hati ini hanyut dalam sebuah resonansi

Terbawa jauh menuju alam sepi dan sendiri


Ketika Matahari Berpuisi

Berpadu lembut bersama jari jemari

Melukis mimpi pada sebuah embun pagi


Ketika Matahari Berpuisi

Berada tepat diatas kepala ini

Dia berkata, Aku menyinarimu setengah hati


Ketika Matahari Berpuisi

Jiwa ini semakin kencang berlari

Mengejar eloknya mimpi dunia tak henti-henti


Ketika Matahari Berpuisi

Rintik hujan datang mengiringi

Membentuk harmoni pelangi berwarna-warni


Ketika Matahari Berpuisi

Bulan Bintang muncul dari senja yang sunyi

Membawa gemerlap cahaya menari-nari


Ketika Matahari Berpuisi

Aku masih bermimpi, dan terus bermimpi

Sampai akhirnya Matahari itu telah pergi


Ketika Matahari Berpuisi

Aku terbangun, tersadar dan berdiri

Bertanya kemanakah matahari itu pergi?


Ketika Matahari Berpuisi

Aku berpikir, barangkali esok matahari akan kembali

Tapi, Apakah daku masih bisa melihat Cahaya Pagi?


Ketika Matahari Berpuisi

Seandainya ia tidak pernah kembali lagi

Apakah aku akan turut pergi bersama mimpi duniawi?


Ketika Matahari Berpuisi

Diiringi syahdunya lantunan Ayat suci, Aku berkontemplasi

Dimanakah aku letakkan Allah MahaSuci?


Ketika Matahari Berpuisi

Kebenamkan mataku dalam keheningan ini, lalu bertanya pada hati

Apakah Aku sudah siap untuk mati?


"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."

(QS. 4:78).


-Sebuah Kontemplasi dari seorang Hamba Illahi-

25 Mei 2011, 01.42

0 komentar :

Posting Komentar