
Ketika Matahari Berpuisi
Cahayanya masuk mengisi hati yang sepi
Menyinari kegelapan dalam sebuah alunan melodi
Ketika Matahari Berpuisi
Aku buka jendela kamar ini, jantungku berhenti
Menikmati hangatnya sebuah karya Illahi
Ketika Matahari Berpuisi
Aku terbawa dalam sebuah imajinasi
Mendengar sebuah symphoni nada cinta bernyanyi
Ketika Matahari Berpuisi
Hati ini hanyut dalam sebuah resonansi
Terbawa jauh menuju alam sepi dan sendiri
Ketika Matahari Berpuisi
Berpadu lembut bersama jari jemari
Melukis mimpi pada sebuah embun pagi
Ketika Matahari Berpuisi
Berada tepat diatas kepala ini
Dia berkata, Aku menyinarimu setengah hati
Ketika Matahari Berpuisi
Jiwa ini semakin kencang berlari
Mengejar eloknya mimpi dunia tak henti-henti
Ketika Matahari Berpuisi
Rintik hujan datang mengiringi
Membentuk harmoni pelangi berwarna-warni
Ketika Matahari Berpuisi
Bulan Bintang muncul dari senja yang sunyi
Membawa gemerlap cahaya menari-nari
Ketika Matahari Berpuisi
Aku masih bermimpi, dan terus bermimpi
Sampai akhirnya Matahari itu telah pergi
Ketika Matahari Berpuisi
Aku terbangun, tersadar dan berdiri
Bertanya kemanakah matahari itu pergi?
Ketika Matahari Berpuisi
Aku berpikir, barangkali esok matahari akan kembali
Tapi, Apakah daku masih bisa melihat Cahaya Pagi?
Ketika Matahari Berpuisi
Seandainya ia tidak pernah kembali lagi
Apakah aku akan turut pergi bersama mimpi duniawi?
Ketika Matahari Berpuisi
Diiringi syahdunya lantunan Ayat suci, Aku berkontemplasi
Dimanakah aku letakkan Allah MahaSuci?
Ketika Matahari Berpuisi
Kebenamkan mataku dalam keheningan ini, lalu bertanya pada hati
Apakah Aku sudah siap untuk mati?
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh."
(QS. 4:78).
-Sebuah Kontemplasi dari seorang Hamba Illahi-
25 Mei 2011, 01.42
RSS Feed
Twitter
19.15
Sebuah jalan pencarian kebenaran
0 komentar :
Posting Komentar